LANGKAH-LANGKAH MENJADI ADVOKAT

Saat ini, profesi hukum adalah yang paling diminati dan memiliki gengsi tinggi di mata masyarakat maupun fakultas hukum. Animo ini seolah menenggelamkan dan mengalahkan kepopuleran profesi hukum yang lain seperti jaksa, hakim, legal officer, dan konsultan hukum. Semua ini tidak terlepas dari peranan media elektronik khususnya dan media massa pada umumnya yang menampilkan sosok advokat yang klinyis-klinyis, tajir, cantik/ganteng, gesit, dan tangkas berdebat. Media, mungkin tidak sengaja, berhasil menampilkan sosok yang ideal (meski yang ditampilkan sebenarnya advokat itu-itu saja).

Di tengah maraknya berita-berita hukum dan semakin tingginya tingkat kesadaran (keberanian) masyarakat mempertahankan haknya, profesi advokat seolah menjadi tumpuan meski juga kebencian. Menjadi tumpuan karena advokatlah yang berwenang mendampingi dan membantu masyarakat menyelesaikan setiap masalah hukum. Advokat juga menjadi sasaran kebencian karena idealisme dan tugas advokat dapat saja memposisikan advokat pada posisi yang tidak populer di antara pendapat umum masyarakat. Hari ini duduk mendampingi koruptor, besok menjadi pengamat yang idealis atau sebaliknya. Apapun itu, itulah romantika dan filosofi tugas advokat.

Menjadi advokat pasti kaya? Ya dan tidak. Boleh-boleh saja anda berharap menjadi kaya dari profesi advokat (siapa sih yang tidak ingin kaya?), tetapi jika kekayaan saja yang motivasi anda menjadi advokat. Cepat atau lambat anda akan menyesalinya. Apapun profesi yang dipilih, pilihlah karena passion (kecintaan). Kaya itu hanya bonus karena kita bekerja sungguh-sungguh.

Untuk menjadi advokat, seseorang harus melalui beberapa syarat dan tahapan yang meliputi :

1. Lulusan Sarjana Hukum atau Hukum Syariah.
Seorang calon advokat haruslah telah lulus dari Fakultas Hukum atau Fakultas Hukum Syariah. Ini syarat formal yang harus dipenuhi.

2. Mengikuti PKPA (Pendidikan Khusus Profesi Advokat) Peradi.
Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia) adalah organisasi tunggal advokat yang dibangun oleh para advokat dari berbagai organisasi advokat yang telah ada sebelumnya. Peradi adalah penyelenggara sah dari PKPA yang secara teknis diselenggarakan bekerja sama dengan pihak lain di berbagai kota. Silahkan cek di website www.peradi.or.id .

3. Ujian Advokat dari Peradi.
Setelah selesai mengikuti PKPA, jenjang berikutnya adalah ujian tulis yang diadakan oleh Peradi di beberapa kota di Indonesia. Ujian ini harus dilalui dan harus mencapai nilai minimal tertentu (kalau tidak salah, 70). Jika tidak lulus, bisa diulang di Ujian Advokat berikutnya

4. Magang 2 tahun berturut-turut.
Setelah lulus, calon advokat harus magang di sebuah kantor hukum selama 2 tahun berturut-turut serta membuat laporan magang yang cara-caranya telah diatur oleh Peradi (cek website : www.peradi.or.id).

5. Pelantikan dan Penyumpahan.
Jika semua tahapan telah dilalui dan dinyatakan memenuhi syarat, calon advokat akan dilantik atau diambil sumpah oleh Ketua Pengadilan Tinggi setempat. Inilah tahap akhir yang menandai calon advokat telah sah menjadi advokat dan bisa menangani perkara secara mandiri dan independen.

(Oleh Zazuli M. Hanief, S.H., M.Hum, Advokat Indonesia)

2 thoughts on “LANGKAH-LANGKAH MENJADI ADVOKAT

  1. salamkemarin aku ikut ujian Advokad KAI di kampus UI Salemba keanpa aku milih KAI bukanya tes PERADI? karena di KAI lebih transparan.contoh kalau kita dinyatakan tak lulus akan dikasih tau kegagalanya di mana? pg apa essay? dan yang gagal itu akan dilakukan her? lalu sistem ujian dulu setelah lulus baru PKPA? nah jadi tidak buang2 uang kasihan banyak temen2 kita udah bayar 5 jutaan ikut PKPA eh tak lulus Ujian Advokad? kan sayang ya? jadi tak ada salahnya kita2 coba ikutan Ujian KAI? Thx.Gomos Jaksana Putra Simandjuntak,SH08568122316/02191562891

    1. soal ikut ujian, silahkan boleh pilih mana yang enak. tapi soal dilantik ga dilantik jadi Advokat oleh Pengadilan Tinggi itu yang tidak bisa memilih enak dan tidaknya, Bung. Buat apa capek-capek ikut ujit Advokat kalau tidak bisa dilantik/disumpah untuk menjadi Advokat? Bukannya lebih kasihan karena sudah buang tenaga dan biaya. Lebih baik capek dikit, pusing lebih, tapi hasilnya maksimal. Bagaimana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>