uang

SIAPA MAU MELIPATGANDAKAN UANG?

Melipatgandakan uang, rasanya telah menjadi  impian manusia masa kini. Termasuk tentu penulis. Yah, siapa sih yang tidak ingin uang bisa berkembang biak tanpa perlu memerah keringat dan menembus kemacetan jalanan? Hanya dengan goyang kaki di kursi empuk, uang akan bekerja sendiri untuk kita. Istilah kerennya pasive income.

Keinginan kita melipatgandakan uang ini nampaknya dibaca secara jeli oleh pihak-pihak tertentu secara tidak bertanggungjawab. Maka muncullah kasus bank gelap, dukun berkedok kyai, investasi illegal, hingga koperasi abal-abal. Mereka memahami betul psikologi kita sebagai manusia serakah (baca : ingin kaya mendadak). Salahkah ingin kaya mendadak? Tentu tidak. Salahkah ingin melipatgandakan uang? Sama sekali tidak ada hukum larangannya. Namun sering kali semua keinginan-keinginan itu menutup rapat-rapat akal sehat kita. Maka dukun, bank gelap, hingga investasi abal-abal selalu menjadi kasus yang berulang. Bahkan korbannya juga dari kalangan terdidik yang notabene sangat leluasa melakukan pengamatan dan penilaian sehingga luput dari hal-hal yang secara kasat mata sebenarnya adalah investasi PHP (pemberi harapan palsu).

Agar kita tidak terjebak dalam investasi PHP lagi, di bawah ini adalah tips-tips investasi aman dan menguntungkan.

  1. Legalitas

Ini adalah hal pertama yang harus dipastikan. Legalitas akan memberikan kita perlindungan hukum jika terjadi hal-hal yang tidak diharapkan atau diluarperkiraan seperti bencana alam, penyalahgunaan kewenangan hingga wan prestasi.

Legalitas bisa berbentuk perijinan usaha investasi dan rekomendasi dari assosiasi tertentu seperti Badan Penanaman Pasar Modal, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, REI (Real Estate Indonesia), dan lain-lain.

Yang juga harus dicermati adalah investasi yang dilakukan dalam hubungan orang per orang. Dalam hal seperti ini, legalitas investasi bisa dibuat dalam bentuk perjanjian resmi (dibuat dihadapan notaris). Apalagi jika menyangkut dana yang cukup besar serta jaminan berupa aset.

  1. Transparansi

Memastikan apa yang bisa kita ketahui berkaitan dengan investasi kita tentu akan membantu seberapa besar resikonya. Tingkat transparasi ini juga bermacam-macam tergantung jenis investasinya. Semakin besar resikonya, pastikan semakin mudah kita mengakses informasi yang kita perlukan. Begitu juga sebaliknya, semakin kecil resiko investasinya, biasanya juga lebih terbatas akses informasinya.

Sebagai contoh jika kita berinvestasi saham (trading saham), kita akan diberi kesempatan untuk mengetahui sedalam-dalamnya informasi perusahaan (emiten) yang sahamnya ingin kita beli. Dan perusahaan juga wajib membuka informasinya kepada investor mulai dari informasi umum, keuangan, hingga riwayatnya. Ini dilakukan karena investasi saham memiliki tingkat resiko yang sangat tinggi. Artinya, kerugian perusahaan menjadi tanggungan investor juga. Namun, profit (keuntungan) yang dicapai nilainya juga bisa berlipat-lipat (lebih dari 100%).

Sebaliknya, investasi seperti deposito, reksadana hingga asuransi, relatif terbatas transparansinya. Investor tidak mendapat laporan secara detil untuk apa dan ke mana uangnya. Namun investor mendapat jaminan uang kembali dan tambahan keuntungan yang sudah ditentukan sejak awal besaran maupun periodenya. Tentu ini ada konsekuensinya yaitu profit yang didapat juga tidak terlalu besar. Biasanya belasan persen per tahunnya.

  1. Pemahaman

Jika kita berinvestasi, buanglah rasa malas untuk belajar. Sekecil apapun, penting untuk memahami skema (yang tentu harus legal dan halal) investasi kita. Jangan ada kata gagal paham. Curigalah pada investasi (biasanya tidak resmi) yang sulit dipahami dan tidak masuk akal namun menawarkan profit yang luar biasa.

Termasuk jika kita menggunakan jasa manajer investasi. Pastikan manajer investasinya resmi dan berlisensi. Bagaimanapun juga, kita adalah orang pertama yang menanggung resiko investasi. Lakukan check and recheck, riset, dan konsultasi pada orang/pihak yang bisa dipercaya dan berkompeten. Di era keterbukaan informasi seperti sekarang, mencari-cari informasi relatif mudah dan cepat.

Jangan lupa, pelajari juga skema-skema (seperti skema Ponzi) atau kasus-kasus investasi yang pernah merugikan masyarakat agar kita tidak terjatuh pada lubang yang itu-itu juga. Skema dan kasus ini sebenarnya selalu berulang dan hampir tidak banyak berkembang namun tetap saja memakan korban.

  1. Kontrol Diri

Keinginan mendapatkan keuntungan harus diimbangi juga dengan kontrol diri (emosi). Salah satu trik penyelenggara investasi PHP (pemberi harapan palsu) untuk menjerat korban adalah dengan menyentuh sisi serakah manusia karena sisi inilah yang sanggup menutup akal sehat. Begitu seseorang sudah membayangkan keuntungan dan harapan besar, seiring dengan itu menurunlah (atau bahkan hilang) kemampuan berpikirnya. Dan tentu sudah tidak penting lagi tiga tips di atas.

Untuk itu, pastikan kita mengambil keputusan investasi secara tenang dan cerdas. Jika masih ada perasaan euforia dalam diri karena penawaran keuntungan yang luar biasa, jangan mengambil keputusan apapun. Tenangkan diri dulu hingga kita benar-benar yakin bisa berpikir secara jernih. Tidak ada hal yang sangat darurat dalam berinvestasi sehingga sikap tergesa-gesa sangat tidak diperlukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>